Tinggal di sebuah kampung dengan latar belakang penduduk yang
heterogen, membuatku kerap memotret realita kehidupan sehari-hari yang
membuatku merenung.
Setiap hari, beberapa saat setelah Subuh, kala gelap masih setengah
menyelimuti bumi, aku sudah mendengar suara derit roda gerobak, yang
ditarik oleh sejumlah buruh bangunan, beberapa di antaranya adalah
tetangga-tetanggaku sendiri. Mereka yang rumahnya tampak kumuh,
berlantaikan tanah, dan berpintu triplek seadanya tanpa sentuhan cat.
