Kamis, 23 Desember 2010

Sajak Hari Ibu untuk Anakku

Memandangi wajah damaimu terlelap malam ini, Nak …

Bunda teringat pada segala hiruk-pikuk perayaan hari ibu hari ini

Kau tahu, Nak?

Tak sedikit pun Bunda berharap ada yang mengucapkan “selamat hari ibu” pada Bunda hari ini

Apalagi disertai bait-bait puisi indah, untaian doa yang membuat trenyuh, atau sekadar permintaan maaf seperti tertulis pada status Facebook teman-teman Bunda hari ini


Ucapan-ucapan semacam itu hanya akan membuat Bunda sedih


Karena Bunda merasa belum menjadi ibu sejati, yang pantas menerima segala ucapan selamat, untaian doa, bait-bait puisi, dan permintaan maaf itu

Karena sesungguhnya, Bunda yang harus meminta maaf padamu


Maafkan Bunda, Nak …

Atas sebagian harimu yang hampa karena Bunda lebih sibuk dengan dunia Bunda sendiri

Atas bentakan-bentakan yang tak sengaja Bunda lontarkan saat mulut kecilmu tak henti berceloteh dan Bunda merasa terlalu lelah untuk menanggapinya

Atas segala perilaku Bunda yang tidak terpuji, dan terpaksa kautiru karena ketidakmengertianmu

Atas tidak maksimalnya usaha Bunda untuk dekat dengan-Nya, sehingga doa-doa Bunda untukmu tak cukup khusyuk untuk mendapat ijabah-Nya

Atas ketidakmampuan Bunda menjadi madrasah terbaik bagimu, dan justru Bunda yang banyak belajar darimu


Memilikimu hampir 5 tahun ini, Nak, adalah anugerah terindah bagi Bunda

Tidakkah kau merasa Bunda juga anugerah terindah bagimu?

Maafkan Bunda jika kau tak merasakan hal yang sama

Beri Bunda kesempatan untuk memperbaiki diri Bunda, Nak

Beri Bunda kesempatan untuk belajar menjadi ibu sejati

Hingga suatu saat nanti, Bunda pun layak menerima ucapan itu:

“SELAMAT HARI IBU”


Jimbaran, 22 Desember 2010, 07:57 pm
Dedicated to my beloved son, Raihan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...