Rabu, 07 Januari 2015

Pesawat

Sumber gambar: bandaraonline.com
Waktu aku kecil, aku pernah beberapa kali diajak ayahku ke kantornya. Ruangannya sangat sejuk. Ada beberapa orang di dalamnya, masing-masing berhadapan dengan sebuah layar monitor. Detailnya, aku sudah lupa. Namun di layar itu ada lingkaran-lingkaran, ada titik-titik. Titik-titik itu, kata ayahku, adalah pesawat yang keberadaannya tertangkap oleh radar bandara.

Ya, ayahku seorang Air Traffic Controller (ATC). Tugasnya memantau lalu lintas udara, berkomunikasi dengan para pilot, memandu mereka sejak pesawat berangkat dan berjalan di runway, take off, flying, sampai landing.

"Ayah mau ke kantor dulu, ada pesawat hilang," pamit Ayah pada kami di rumah suatu hari yang bukan jamnya beliau berdinas. Wajahnya tampak tegang. Bagaimana tidak tegang. ATC adalah pihak belakang layar yang perannya sangat besar dalam menentukan keselamatan penerbangan. Jika ATC salah memberi instruksi kepada pilot, akibatnya bisa sangat fatal. Saat itu ayahku telah menjadi ATC senior dan berada pada jabatan yang posisinya membawahi semua ATC di lingkup Bandara Ngurah Rai.

Tak jauh dari rumah tinggalku di masa kecil, dan tak jauh dari Bandara Ngurah Rai, ada sebuah pantai. Pantai favoritku, yang nyaris setiap akhir pekan kukunjungi untuk mencari tiram atau kerang. Pada sebuah sisinya, nun jauh di sana, terbentanglah landasan pacu bandara Ngurah Rai. Dari kejauhan, aku bisa menyaksikan pesawat yang akan take off. Siluetnya tampak kabur, bagaikan tertutup kabut tipis. Namun aku masih dapat menangkap gerakannya dengan jelas. Dari mulai lambat, berjalan semakin cepat, berlari kencang, dan akhirnya lepas landas, mengangkasa tinggi, tinggi dan semakin tinggi hingga mengecil dan hilang ditelan gumpalan awan.

Di sisi lain, di tepi pantai itu, tergeletak sebuah bangkai pesawat yang telah berkarat, cuma tersisa badan kapal yang tinggal separuh. Mungkin itu bangkai pesawat yang kecelakaan bertahun-tahun silam. Dulu, tentunya ia segagah pesawat yang barusan take off. Namun garis nasib menakdirkannya hanya menjadi besi tua yang kian hari kian keropos termakan usia.

Ayahku, sedari muda sudah menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pesawat. Ia penyuka game pesawat, sebuah game yang ketika dimainkan, kita seperti sedang duduk di kokpit pesawat, bagaikan seorang pilot. Ia juga dapat merakit pesawat mainan yang dikendalikan oleh remote control. Ia pun sangat mencintai pekerjaannya sebagai ATC. Maka itulah salah satu kenangan yang lekat dalam ingatanku terkait Ayah. PESAWAT.

Anehnya, kegandrungan Ayah pada pesawat tidak menurun padaku. Aku menyukai keanggunan si burung besi saat berlari di landasan pacu bandara. Namun membayangkan diriku berada di dalamnya, hanya akan membuat perutku mual.

Ayahku tercinta, telah lebih dari 14 tahun berpulang. Dalam rentang waktu itu, berkali-kali berita kecelakaan pesawat menghiasi headline berita tanah air. Jika berita itu sampai ke telingaku, maka aku akan langsung teringat pada ayahku. Lalu kenangan itu akan beranjak pada ruangan kantornya yang sejuk. Pada layar monitor radar bandara yang menayangkan titik kecil itu. Pesawat yang di depan mata kita tampak begitu besar, hebat, dan perkasa, namun bagi-Nya hanyalah sebuah titik kecil, yang bisa dihempaskan-Nya hanya dengan sekali jentikan jari. Dihempaskan-Nya hingga hancur berkeping-keping, terdampar di sisi jurang, teronggok di kaki gunung, tersangkut di antara pepohonan hutan belantara, atau tenggelam di dasar samudera mahaluas.

Allaahu Akbar. Tiada yang bisa melawan takdir-Mu, ya Robb. Di penghujung tahun 2014, lagi-lagi Kau uji sebagian hamba-Mu dengan perihnya rasa kehilangan. Kuatkanlah mereka, ya Allah.

Turut berdukacita atas musibah kecelakaan yang menimpa pesawat Air Asia pada Ahad, 28 Desember 2014. Semua yang bernyawa akan merasakan mati. Baik dengan cara yang biasa, maupun dengan cara yang mengundang kepiluan seperti musibah ini. Tempat yang layak di sana, semoga telah tersedia bagi almarhum/almarhumah, aamiin...

1 komentar:

  1. Aamiin. Semoga semua korban diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Oh ya, keren banget profesi di ATC itu mak, tapi memang tidak mudah dan yang pasti, tanggungjawabnya besar.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...